Kenangan Setahun yang lalu tentang syahidul mimbar Syeikh Said Ramadhan Albuty

Image

Setahun yang lalu (22/3/2013) sekitar pukul .04.30 pagi, Saya mendapat telpon dari salah seorang sahabat saya, abangnda ustadz Fauzan. Dengan tersedu beliau menanyakan “apa benar Syeikh Said Ramadhan Al-Buty meninggal akibat bom?”

Sontak saya terhentak dan terhenyak, tidak mampu menjawab apa-apa kecuali ikut menangis.

Setelah shalat subuh saya berusaha mencari-cari informasi dari teman-teman yang masih berdomisili di Suriah untuk mencari kebenaran informasi tersebut sembari mencari-cari video yang diunggah ke youtube.

Akhirnya saya pun mendapat konfirmasi, bahwa benar beliau telah terbunuh dalam serangan bom bunuh diri ketika beliau memberikan pengajian tafsir Alquran.

Sejenak dunia terasa berhenti bergerak, rasa sedih yang mendalam meliputi hati saya. Dengan sangat sadar saya tahu bahwa beliau dengan usia yang sangat sepuh akan segera menemui Tuhannya. Namun hal yang menyebabkan beliau meninggal tetaplah terasa amat menyakitkan, beliau dibunuh.

Setelah lama perasaan sedih berkecamuk, perlahan akal sehat mulai menentramkan hati saya dengan berbagai ingatan tentang khalifah Umar bin Khattab, Usman dan Ali r.a bahkan Hasan dan Husain yang juga menemui Tuhan mereka dengan kondisi terbunuh. Sungguh mereka adalah manusia-manusia mulia yang selalu mengakhiri hidupnya dengan indah, dengan sebaik-baik akhir dan husnul khatimah. Bagi mereka hidup di dunia benar-benar merupakan persinggahan sementara dan tidak lebih.

Meninggal karena dibunuh bukan kematian yang buruk dan hina, bahkan bisa jadi hal tersebut jalan menuju syahid. Di dalam sebuah hadis Nabi Saw mengatakan, “Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.”(HR. Bukhari).

Maka perlahan saya mencoba menelaah kembali, apa sebenarnya yang terjadi. Dari berbagai informasi yang saya dapatkan, beliau ketika itu sedang mengajarkan tafsir Alquran, lalu tiba-tiba datang seseorang yang menerobos jemaah seolah ingin duduk di depan tetapi ternyata setelah berada di depan ia mendekati mimbar lalu meledakkan diri. Laa haula walaa quwwata illaa billah….

Beliau syahid diatas mimbar….

Sungguh beliau meninggal dalam keadaan yang sangat baik, yaitu mengajarkan Alquran. Di dalam sebuah hadis Baginda Saw bersabda “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Di dalam hadis lainnya beliau juga bersabda “Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Beliau juga meninggal dalam keadaan dakwah, dan firman Allah Swt,” Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS Fushilat: 33)

Dan beliau sungguh sedang berada di jalan Allah dengan dakwah dan ta’lim wa ta’allum Alquran, sehingga beliau layak disebut sebagai syahid sebagaimana tertera di dalam hadis sahih “Siapa yang terbunuh di jalan Allah, dia syahid. Siapa yang mati (tanpa dibunuh) di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid.” (HR. Muslim), mungkin tidak syahid seperti di dalam peperangan, tetapi syahidnya beliau berada di jalan ta’lim wa ta’allum.

Selama saya menyelesaikan pendidikan di Damaskus, saya sering mendengar doa-doa beliau di dalam pengajian yang merindukan syahid di jalanNya. Meskipun pada saat ini kedengarannya sulit sekali untuk syahid karena tidak ada perang yang syar’i yang terjadi, namun beliau begitu optimis ingin meraih kesyahidan. Bagi mereka yang benar-benar merindukan keridhoan Allah, doa dan niat untuk menemui Tuhan dengan jalan terbaik adalah dengan syahid di jalanNya, karena syahid itu sesungguhnya tidak mati, melainkan hidup di sisi Tuhan (QS. Ali Imran 169).

Satu hal yang sangat saya sesalkan, adalah ketika beliau wafat, banyak rekan bahkan media yang tanpa konfirmasi mengatakan bahwa beliau tidak wafat karena bom akan tetapi karena di eksekusi dengan senjata. Lalu media-media itu menyebarkan foto-foto bekas ledakan, lengkap dengan analisa dangkalnya seraya mengatakan tidak ada ledakan. Akan tetapi itu pemberondongan yang di”cover” oleh pemerintah seolah terjadi ledakan.

Padahal beberapa hari setelahnya terbukti dari kamera hp amatir bahwa memang terjadi ledakan dan beliau wafat akibat getaran hebat dari ledakan itu. Hal ini pula yang dikatakan putra beliau Syeikh Taufik Ramadhan Albuty, tidak ada bekas tembakan di tubuh beliau, beliau wafat karena getaran ledakan yang sangat keras yang mengenai kepala beliau.

Kepada media-media yang pernah menyebarkan berita tidak benar itu, masih ada cara memperbaiki kesalahan kalian dengan memposting hal yang benar. Karena setiap perkataan, setiap tulisan, setiap informasi tidak benar yang disebarkan akan sangat berat pertanggungjawabannya di akhirat.

“Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushilat :22)

_Mengenang wafatnya Syahidul Mimbar Syeikh Said Ramadhan Albuty_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s