Ikut Imunisasi atau tidak?

Image

Bukan perbincangan baru lagi masalah imunisasi antara halal dan haram. Apalagi menjelang menjadi seorang ayah, tentu saya ingin memberikan hanya yang halal bagi generasi penerus saya. Maka saya mencoba melihat beberapa pendapat ulama yang mendalami permasalahan ini.
Namun sebelum itu, ada masalah yang harus kita ketahui bersama perihal perbedaan pendapat para ulama itu bermuara pada dua hal utama. Yang pertama adalah zat yang dicurigai mengandung enzim babi adalah “katalisator”. Dan yang kedua adalah situasi yang “darurat”.

Setelah membaca keterangan dari Dr. Soedjatmiko (Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia) silakan dibaca linknya di kolom komentar, ternyata tidak semua vaksin harus menggunakan enzim babi sebagai katalisator nya. Hanya vaksin polio dan meningitis yang menggunakan enzim tersebut. Itu pun hanya sebagai katalisator yang kemudian setelahnya segera dicuci dan dibersihkan, sehingga tidak terdeteksi lagi zat dari enzim tersebut. Direktur perencanaan dan pengembangan PT.Bio Farma, Drs. Iskandar, Apt, M,M, juga mengungkapkan hal yang serupa, bahwa katalisator itu segera dibersihkan setelah pembiakan dan pengeluaran induk vaksin berhasil dilakukan.

Oke, dari segi penggunaan enzim rasanya memang apa yang dikemukakan oleh Dr. Soedatmiko dan juga Drs. Iskandar, Apt, M,M, bahwa vaksin itu telah dicuci bersih dari enzim, maka dapat digunakan kaedah para ulama, “Hukum itu berputar pada illahnya (sebabnya), jika illah ada, maka ada hukum. Jika tidak, maka tidak.” Atau minimal dianggap seperti jalalah, yaitu ternak yang makan makanan najis, bisa dimakan lagi apabila dibersihkan lagi (dengan cara mengurung hewan itu dan hanya diberi pakan yang halal saja). Wallahu a’lam

Kemudian dari segi darurat, apa hendak dikata, para ilmuwan muslim kita seolah stagnan dan tidak menghasilkan enzim dan cara pengolahan vaksin yang lebih baik. Sehingga hanya vaksin yang ada sekaranglah yang dapat dipergunakan dan sudah teruji aman. Maka berlakulah kaedah “Adh-dhorurat tubihu al-mahzhurat” Keadaan darurat membolehkan melanggar larangan.

Banyak sudah pendapat dan fatwa para ulama terkait vaksin dan imunisasi, silahkan mencari dan memilih apa yang paling menenangkan hati anda untuk dilakukan.

Namun bagi saya pribadi sebagai seorang ayah (calon), vaksinasi sudah terbukti mendatangkan maslahat yaitu (salah satunya) kasus penyakit polio yang sudah hampir tidak ada lagi di Indonesia, Alhamdulillah. Oleh karena itu saya akan mengimunisasi anak saya, dengan pertimbangan tidak semua vaksin itu dari/menggunakan benda haram dan juga kondisi yang tidak memberikan pilihan lain.

Kalau mau lebih banyak bacaan tentang hal ini bisa mencari buku Imunisasi Syariat karangan Dr. Arifin Badri, MA.
Semoga mencerahkan.

One thought on “Ikut Imunisasi atau tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s