Rayhan Kecil dan Alquran

Masih seputar Alquran dalam pendidikan anak.

Sebelumnya kita pernah berbincang tentang “mental hectic” yang diderita anak akibat penjejalan calistung di usia balita, namun hal ini tidak berlaku apabila yang dipaksakan adalah menghafal Alquran.

Seorang sahabat FB saya bercerita tentang sepupunya kecilnya, Rayhan.

Selayaknya seluruh ibu di dunia yang merasa sangat bahagia menantikan kelahiran putra pertamanya, ibu ini pun sangat antusias menjalani hidupnya. Hingga tiba lah “waktu” nya sang anak hadir ke dunia. Namun apa dinyana, sang ibu bersedih kala mengetahui putra tersayangnya menderita sindrom down yang membuat putra kesayangannya itu mengalami keterbelakangan mental, fisik yang cenderung pendek dan wajah khas mongolid.

Tidak mudah bagi seorang ibu menerima hal ini, tidak semudah kata “sabar” atau sesimpel “ada hikmah nya”. Namun tetap saja orang beriman yakin janji Tuhannya “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah adalah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Albaqarah 153). Dukungan keluarga dan waktu pun menjadi teman sekaligus pelipur lara yang mengikhlaskan jiwa sang ibu dengan keadaan putranya.

Meski tidak mudah, sang ibu dengan penuh kesabaran mendidik anaknya perlahan dan penuh perhatian, karena penderita sindrom down memang butuh perlakuan khusus akibat keterbelakangan mentalnya. Yang membuat saya takjub adalah Alquran dijadikan bagian tak terpisahkan dalam mendidik sang anak sehingga ketika ia berusia 6 tahun semua hikmah terlihat nyata.

Rayhan ketika mendengar mbah nya mengaji dengan serta merta mengambil Alquran, duduk di dekat beliau seraya membuka lembar-lembar mushaf seperti ikut membaca Alquran bersama. Ia secara alami mengamalkan titah Tuhan ““Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204.) berbeda jauh dengan kita yang ketika mendengar lantunan ayat-ayat Tuhan tetap lalai lengah seperti tuli saja.

Lalu ketika ia mendengar suara azan berkumandang, segera ia menarik sajadah ayahnya lalu menarik tangan ibunya untuk menunaikan shalat bersama. Subhanallah… Malu rasa nya kita yang sehat dan sempurna akalnya masih enggan memenuhi panggilanNya, karena hakikat panggilan azan adalah panggilan Tuhan kepada hambaNya.

Dan tentu bagi sahabat saya tersebut salah satu momen yang membuatnya terharu biru adalah ketika rayhan datang mengunjungi nya, serta merta ia memegang perut sahabat saya itu lalu berdoa dengan mulut cadel nya “Ya Allah,adiknya sehatkan..perempuan Aamiin…” Ia mungkin terbelakang mentalnya, tapi jiwa nya lebih dewasa dari kita yang sudah tua.

Sungguh Alquran sebuah mukjizat, hanya kita yang sering menyia-nyiakannya.

Teruntuk sahabat saya, terima ksih sharing nya, sungguh membuat saya haru dan terpukul betapa saya sudah banyak lalai dengan mukjizat yang berada di atas meja. Jazakumullah khairan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s