Khittah Calon Orangtua

Image
Tentang pendidikan anak rasanya sudah tidak perlu lah kita membahas dan bertanya-tanya apa dalilnya ya…? Rasanya tidak mungkin tidak ada yang tahu betapa kewajiban mendidik anak berada di pundak orangtuanya. Karena anak itu akan dibentuk oleh orangtuanya. Maka tidak asalah pepetah mengatakan “like father like son” karena anak akan dibentuk oleh sifat, sikap, perilaku dan perbuatan orangtuanya.

Namun biarlah kita sertakan sebuah ayat Allah dan hadis Nabi Muhammad Saw di dalam tulisan ini untuk mengambil berkah pendidik terhebat sepanjang masa dan amat mulia ini :”Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, 

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” 

kemudian Abu Hurairah membacakan ayat-ayat suci ini: (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Hukum-hukum) ciptaan Allah tidak dapat diubah. Itulah agama yang benar. Tapi sebagian besar manusia tidak mengetahui (QS. Ar Rum:30).

Baiklah, agar terdengar lebih modern kita berikan pendapat John Locke yang mengatakan bahwa manusia dilahirkan ibarat kertas putih (tabularasa).

Nah pertanyaannya adalah, ingin engkau jadikan apa anakmu?

Jadi pilot? Bagus sekali….
Jadi Guru? (Walaupun sudah jarang ada yang mengatakan ini) itu pun bagus sekali….
Jadi jenderal? Wah…. keren…
Jadi presiden? Super sekali (kata Pak Mario Teguh )
dst…

Oke… Hal-hal diatas memang bagus dan baik semua, namun saya hanya ingin menyinggung kembali tentang tujuan hidup kita. Semoga kita tidak lupa bahwa tujuan kita hidup hanya satu :“Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada Ku”. (QS. Az-Zariyat: 56).

Lalu anak yang kini berada di dalam amanahmu, hendak kamu letakkan dimana porsi tujuan (ibadah) itu?

Jangan-jangan karena terlalu terlena dengan cita-cita dunia, terlupakan tujuan hidup kita yang sebenarnya. Anak-anak kita, kita paksakan untuk belajar baca tulis dan menghitung sejak masih balita lagi, dengan harapan ia akan menjadi orang cerdas dan pintar. Masa-masa bermainnya yang menyenangkan kita tukar dengan ambisi keduniawian “orangtua” sehingga mentalnya pun merasa lelah.

Sebenarnya saya sudah lama pernah membaca tulisan yang mengutarakan hal yang serupa namun kali ini saya ingin mengutipnya langsung “Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena ‘Mental Hectic’.

”Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,” ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas”

Lucunya, ketika anak-anak kita itu (yang kita paksakan pintar sejak dini) dan terbukti dengan nilai prestasi tinggi, tidak menjadikan kehidupan bermasyarakat bangsa kita lebih baik. Serasa ada yang “hilang” dari ini semua, ya seperti dugaan semua orang, “moral” yang telah hilang dari dunia anak-anak.

Salah seorang rekan FB saya menceritakan pengalamannya sewaktu kecil, bahwa sejak umur 3 tahun sudah mulai sedikit diajarkan membaca, karena ia sendiri yang tertarik untuk membaca lantaran sang ibunda rutin membacakan kisah Rasul dan dongeng anak negeri, dan hingga sekarang rekan saya tersebut tidak merasakan “mental hectic”. Mari perhatikan perbedaan antara apa yang dikatakan Pak Sudjarwo dengan apa yang dialami rekan saya tersebut, ada kata “dipaksakan”. Dan perhatikan juga bahwa yang ditanamkan sang bunda adalah moral dan nilai. Ini yang membuat “mental hectic” itu tidak muncul ke permukaan psikologis anak. Sementara lazimnya yang ada di masyarakat, anak dipaksa belajar calistung, dimarahi bila tidak sanggup membaca, dihukum bila salah menghitung. Ini yang salah.

Saya tidak ingin mengajari anda tentang bagaimana seharusnya mendidik anak, karena itu hak masing-masing orangtua, saya hanya ingin menyampaikan pendapat bahwa “mental hectic” itu terjadi apabila yang dipaksakan kepada anak adalah sesuatu yang bukan tujuan utamanya. Sedangkan “pemaksaan” yang dilakukan untuk memenuhi tujuan utama hidup (yaitu menyembah Allah) tidak akan menimbulkan mental hectic, karena hakikatnya seorang anak lahir memang sudah fitrah, ketika dituntut memenuhi sesuatu yang sesuai arah fitrahnya maka hal tersebut hanya akan mempercepat langkahnya bukan menimbulkan kelelahan mental.

Ibarat mengapung di sungai, kalau tujuannya ke arah hilir lalu ikut arus sungai tidak akan terasa lelah malah lebih cepat sampai, namun bila tujuannya hulu maka perjalanan akan terasa berat dan melelahkan.

Sah-sah saja bila anda mengatakan itu hanyalah pendapat saya, namun yang perlu saya utarakan, silahkan membaca biografi para Syaikhul Azhar (Pimpinan tertinggi dari Al-Azhar dari masa pertama kali berdirinya) rata-rata beliau-beliau itu hafal Alquran dibawah 10 tahun. Apakah mereka “dipaksa” ketika masih kecil? Tentu, mana mungkin seseorang bisa hafal Alquran tanpa dipaksa. Ohya… Hingga saat ini sudah ada 48 Syeikhul Azhar loh….

Belum lagi biografi para Imam dan alim ulama kita dahulu yang tidak terhitung lagi banyaknya. Seluruhnya hafal Alquran dan kebanyakannya hafal dari usia dini.

Anda boleh mendebat saya dalam hal ini, tapi fakta sejarah sudah berbicara.

Sebagai calon orangtua (mudah-mudahan akhir bulan maret ini lahir), saya sudah menentukan peta perjalanan pendidikan anak saya, yaitu hafal Alquran adalah hal yang paling pertama dilakukan. Kemudian menanamkan nilai moral dari apa yang dihapalnya lalu saya biarkan ia meraih apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Dan saya akan kembali membuktikan bahwa sejarah para ulama-ulama besar kita itu nyata, anak-anak akan mengalami “mental hectic” bila dari balita dipaksa calistung, tetapi tidak akan hectic bila dipaksa menghafal kalam Ilahi.

Kita hanya punya satu kesempatan untuk setiap anak dalam menetapkan peta tersebut, salah pemetaan akan salah didik, salah didik hanya akan menghasilkan generasi lemah. Mungkin saja anda dapat memperbaikinya ketika sudah mulai mendewasa, tetapi percayalah hal itu akan jauh lebih sulit dari yang anda duga.

Sudah terlalu banyak orang di sekitar kita salah mendidik anaknya, mudah-mudahan kita masih cukup waras dan cerdas untuk tidak ikut-ikutan juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s