Khitan (sunat), laki-laki dan perempuan

Bismillahirrahmanirrahim

Salah seorang sahabat di FB menanyakan bagaimana sebenarnya hukum khitan khusus nya bagi perempuan. Karena informasi umum yang beredar di masyarakat sekitarnya adalah antara haram dan wajib.

Oleh karena itu saya coba buka-buka lagi kitab untuk melihat pendapat para ulama tentang hal ini, dan tidak lupa melihat pendapat-pendapat yang terkait masalah medis agar tercapai tujuan dari syariat Islam yaitu kebaikan di dalam masyarakat.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang khitan, ada hal penting yang ingin saya utarakan terkait “syariat Islam”, yaitu segala hal yang disyariatkan di dalam Islam adalah untuk kemaslahatan umat, tidak perduli apakah kemaslahatan tersebut sudah dapat dibuktikan secara ilmiah saat ini atau belum dapat terbukti secara ilmiah. Mengapa perlu hal ini saya tekankan? Karena sudah terbukti sepanjang sejarah manusia, bahwa seluruh “sunnah” yang disyariatkan dalam Islam ternyata telah melangkahi pengetahuan masyarakat yang belum mampu mengungkap kebaikan “sunnah” tersebut.

Saya rasa tidak perlu menuliskan seluruh hal-hal yang saya sebutkan diatas, anda dapat mencarinya sendiri – coba dicari dari karya Harun Yahya-, saya saat ini hanya ingin menuliskan betapa khitan (sunat) bagi lelaki dahulu juga amat ditentang oleh pihak medis dunia barat karena terlihat mengerikan dan terkesan “barbarian”. Ya masa’ anggota tubuh satu ini – yang bahkan disentil saja sudah menyakitkan- mau dimutilasi? Namun lambat laun akhirnya penelitian dunia barat pun menemukan fakta bahwa khitan ternyata memiliki banyak sekali manfaat.

Para peneliti menganalisa data yang dikumpulkan Christchurch Health and Development Study, yang mencakup kelompok kelahiran anak dari Selandia Baru. Dalam studi ini, responden laki-laki dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan status khitan sebelum usia 15 tahun dan kelompok yang mengalami infeksi menular melalui hubungan seks antara usia 18 dan 25 tahun yang ditentukan melalui sebuah kuisioner. Hasilnya, sebanyak 356 anak laki yang tak dikhitan memiliki risiko 2,66 kali serangan infeksi yang menular melalui hubungan seks dibandingkan dengan 154 anak laki yang disunat, demikian kesimpulan pemimpin peneliti Dr. David M. Fergusson dan rekan dari Christchurch School of Medicine and Health Sciences.

Nah mari melihat manfaat lainnya dari Kitab At-Tiflu Fii asy-Syarii’ati Al Islamiyah, sebagaimana dikutip oleh Syaikh Al-Isawi di Kitab Ensiklopedi Anak (terbitan Daarus Sunnah, 2008), disebutkan begitu banyak manfaat khitan secara medis, antara lain sebagai berikut:

  1. Menghindarkan penumpukan kotoran keringat dan lemak di antara glans (kepala penis) dan kulit penutupnya (kulup), yang dapat mengakibatkan timbulnya radang dan alergi pada kulit.
  2. Menghindarkan penumpukan sisa air seni yang dapat mengakibatkan infeksi, yang mana akan mengakibatkan kulit kemaluan iritasi.
  3. Menghindarikan penumpukan sisa sperma yang mungkin bisa kembali ke saluran vas deverens yang akan menyebabkan infeksi pada saluran manis. Terkadang juga menyebabkan terjadinya penyempitan saluran air seni atau saluran manis.
  4. Dengan dikhitan, akan menambah sensitivitas pada glans (kepala penis) saat jimak
  5. Khitan dapat mencegah penularan penyakit kulit dari suami kepada istrinya saat jimak
  6. Istri yang melakukan jimak dengan suami yang berkhitan bisa berkurang resiko terkena kanker rahim
  7. Infeksi pada vagina istri juga relatif tercegah, sebab penis yang berkhitan tidak membawa tumpukan kuman dan kotoran
  8. Berdasarkan penelitian para ahli medis, ternyata istri dari suami yang berkhitan lebih memiliki gairah seksual yang tinggi.

 Berikutnya baru kita masuk ke inti masalah tentang khitan perempuan, oke. Ya begitulah, pendahuluan itu penting agar siapapun yang membacanya tidak tersesat dalam pembacaan yang sepotong-sepotong. Anda dipersilakan berdebat dan mempertanyakan secara ilmiah atau pun medis tentang khitan perempuan, itu hak anda. Namun ingatlah, bahwa keterbatasan pengetahuan kita saat ini tentang rahasia dan kebaikan khitan perempuan tidak menjadikan kebaikan tersebut hilang dan malah memberi kebaikan seutuhnya sehingga perlu kita abaikan.

Secara hukum, ulama-ulama Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa khitan bagi laki-laki adalah sunnah muakkadah, sedangkan bagi perempuan adalah kehormatan (boleh dan dianjurkan).

Ulama-ulama Syafii berpendapat bahwa khitan wajib bagi laki-laki dan perempuan.

Imam Ahmad berpendapat bahwa khitan wajib bagi laki-laki dan kehormatan (tidak wajib) bagi perempuan.

Ini adalah pendapat yang saya baca dari kitab Al-Fiqhul Islami karya Syeikh Wahbah Zuhaily halaman 2752.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s