Pesan Dedikasi dalam film Perfect Game

Image

Ahhh… Film Korea (again)… Perfect Game.

Selalu ada makna dan pesan yang indah di film ini. Apalagi film ini diangkat dari kisah nyata. Rasa haru dan kebanggaan akan sebuah dedikasi. 

Film ini bercerita tentang dua tim bisbol yang bersaing ketat, terutama (tokoh utamanya) adalah para pelempar bola. Kedua pelempar bola tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa, lemparan kecepatan tinggi dan lemparan melengkung mereka sungguh menakjubkan. Namun tentu saja selalu ada efek samping sebuah keluarbiasaan manusia (berbeda dengan keluarbiasaan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan RasulNya), sangking cepatnya lemparan yang mereka lakukan, tangan mereka mengalami cedera parah. Meskipun begitu mereka tetap konsisten melempar sebaik-baiknya.

Terkesan biasa saja ya untuk sebuah film? Hhmmm…. Menurut saya juga demikian, tetapi bukan dua pemain diatas yang membuat saya terharu. Tetapi seorang “Man Su”, dia sebenarnya sudah lama sekali bergabung di klub bisbol tersebut, namun sekalipun ia tidak pernah tampil di ajang resmi. Bertahun-tahun, setiap malam setelah latihan resmi ia berlatih sendiri untuk memukul bola. Ia tetap melakukannya walaupun tidak ada jaminan pasti bahwa ia akan dipilih untuk bermain.

Istrinya menangisi kondisi suaminya yang seakan hanya melakukan pekerjaan sia-sia. Bahkan anaknya sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai seorang pemain bisbol.

Sedemikian sulitnya kondisi yang ia hadapi, ia tidak pernah menghentikan latihannya. Ia tetap berkeyakinan, akan tiba masanya bagi dia untuk berbuat sesuatu. Dan ketika kesempatan itu tiba, ia tidak ingin sia-sia atau tidak sempurna. ITULAH DEDIKASI YANG SESUNGGUHNYA.

Dan di akhir cerita, kesempatan itu datang, ia mencetak home run yang menyelamatkan klubnya dari kekalahan.

Man Jadda Wajada

Dan disebutkan dalam sebuah hadis, bahwa Allah sangat senang apabila seorang hamba melakukan sesuatu “an yutqinahu” alias sangat bersungguh-sungguh, detail dan terukur.

Nah anda berada di posisi yang mana saat ini…?

Orang yang mengeluh karena tiada kesempatan tetapi bermalas-malasan?
Orang yang mendapat kesempatan lalu menyia-nyiakannya?
Atau orang yang menanti datangnya kesempatan seraya mempersiapkan diri menghadapi kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali itu dengan sangat baik sekali.

Semoga mencerahkan ya…. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s