Solusi dari seluruh masalah

Image

 

Setiap kita dapat dipastikan punya masalah. Jangankan yang masih hidup, yang sudah mati pun masih punya masalah pertanggungjawaban amal perbuatan ya toh…?

Tapi kita masih mau membicarakan “problem” selama masih hidup.

Saat ini sebagian kita sedang menghadapi masalah banjir, sebagian lainnya menghadapi masalah gunung meletus, ada yang menghadapi masalah longsor dan ada pula yang menghadapi masalah non-fisik alias masalah hati dan pikiran.

Saya dan sahabat-sahabat saya yang membaca tulisan ini pun pasti memiliki masalah. Bahkan sampai ada yang buat status bahwa terkadang senyum bukan berarti bahagia, itu hanya cover saja.

Masalah pun memiliki tingkatan, ada yang ringan, sedang, berat bahkan ada yang super berat dan sangat amat menguras otak dan pikiran.

Tidak… Tidak… Masalah tidak hanya menimpa mereka yang non-kaya, yang kaya pun sama, sama-sama memiliki masalah. Bahkan terkadang masalah mereka jauh lebih kompleks dari masalah orang-orang non-kaya. Believe me their problem really really complex.

Masalah mereka tidak lagi seputar “bagaimana dapur bisa ngebul esok hari atau makan apa esok hari” tidak… Bahkan jauh lebih kompleks lagi. Bagaimana memiliki seorang putri yang amat disayang tiba-tiba hamil, ketika hendak dinikahkan pria keji tersebut ternyata beda agama. Mau dipaksakan ternyata pria keji tadi pernah meminta sang wanita menggugurkan kandungan yang artinya ia memang tidak mau tanggungjawab. Sang orangtua bingung, mau digugurkan sang jabang bayi sudah mau lahir. Mau dipisahkan sang anak tidak rela. Mau diusir anak kesayangan. Mau diungsikan tetap saja keluarga besar akan menanyakan dimana sang anak berada. Meskipun mirip sinetron, tapi ini nyata terjadi.
Nauzubillah min zalik…

Solusi semua masalah tersebut bermuara pada satu ayat : “wasta’inu bish shabri wash shalah” carilah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat. “Wa innaha lakabiratun illaa alal khosyiin” dan sesungguhnya hal tersebut amat besar (berat) kecuali bagi mereka yang khusyu’. (AlBaqarah:45)

Saya sering terhenti pada kalimat terakhir ini. Karena biasanya orang kalau kena masalah, musibah, bencana pasti ingat Tuhan, tapi kenapa Allah katakan berat kecuali bagi mereka yang khusyu’?

Ternyata memang untuk tetap konsisten bersabar, berkepala dingin disertai shalat yang istiqomah pula.

Believe me itu berat banget.

Karena kita biasanya “ingat” Tuhan hanya beberapa saat, lalu saat masalah sedikit mereda, ingatan kepada Tuhan pun sirna. Ya… Kecuali bagi mereka yang khusyu’ yang selalu menghadirkan Allah disetiap apapun jua.

Mari jadikan masalah sebagai langkah menuju pribadi dengan keimanan yang lebih baik. Aamiin…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s