Cinta dan Hati

Image

Ini tentang hati,

Banyak dari kita menyangka bahwa “mentang-mentang” hati itu domain kekuasaan Allah lantas cinta monyet itu adalah cinta suci yang dianugerahkan oleh Allah sebagai bentuk ridho-Nya atas pacaran.

Padahal bisa jadi percikan-percikan rasa suka kepada lawan jenis itu hanyalah bisikan semua dari setan.

Jauh berbeda cinta yang tulus karena Allah dengan bisikan setan. 
Aaahh… Tentu kalian yang belum menikah pasti tidak akan tahu rasanya, karena rasa cinta karena Allah itu hanya diberikan Allah kepada jiwa yang mentaati perintah Allah yaitu menikah.

Jadi jangan GeEr dulu kalau ada rasa suka sama lawan jenis padahal belum halal, lalu mengatakan cinta karena Allah. Itu kamu ditipu oleh setan… Karena setan memang lihai untuk urusan beginian.

Perhatikan ayat berikut : “Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.” Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.” Dan Allah sangat keras siksa-Nya. ” (QS 8. Al Anfaal:48)

Kelak kalau kalian sudah celaka lantas kalian mengaku ditipu setan, setan pun berkata “Aku Gak tahu menahu yaa… Itu kan perbuatan kalian ya urusan kalian sama Allah….”

Soo…! Masih mau ditipu setan…??

Bagi yang sudah sanggup menikah, maka segerakanlah menikah. Yang belum maka berpuasalah, jangan malas puasa….!

Oke….

Semoga mencerahkan jumat yang berkah ini…

Nasehat Pernikahan

Image

Ini adalah nasehat pernikahan untuk anda calon pengantin, pengantin baru, pengantin lama bahkan pengantin tua.

Bahwa pernikahan itu dibangun atas dasar kepercayaan (trust) yang bila kepercayaan itu telah musnah, maka musnah pula bangunan di atasnya.

Tidak perlu ragu untuk menyatakan batas pernikahan itu berada di garis kepercayaan, dimana satu pelanggaran fatal akan merubah pernikahan menjadi perceraian. Hal ini demi menjaga keutuhan sebuah rumah tangga yang harmonis, sakinah mawaddah wa rahmah.

Pernikahan adalah koperasi, dimana anggotanya berprinsip sama-sama memberi dan sama-sama menerima. Bukan sidang pengadilan dimana orang-orang di dalamnya sama-sama menuntut dan sama-sama terpaksa memberi.

Memberi tidak sama dengan terpaksa memberi, karena memberi adalah tanda keikhlasan. Dan keikhlasan adalah bentuk ketulusan, lalu ketulusan melahirkan rasa senang, rasa senang menumbuhkan rasa cinta, rasa cinta akan berkembang tersu menjadi kebahagiaan rumah tangga.

Menerima tidak sama dengan menuntut, dimana menerima jerih payah dan usaha maksimal pasangan hidup adalah bentuk kerelaan untuk saling berkorban. Kita semua selayaknya menyadari bahwa pengorbanan lah yang mengangkat rasa cinta itu tinggi setinggi langit. Pengorbanan lah yang membuat segala kepedihan terasa manis. Pengorbanan lah yang membuat kesusahan sebagai tantangan.

Seandainya iman saja bisa naik dan turun di dalam diri manusia, apatah lagi rasa cinta? Tentu bisa lebih fluktuatif dari rasa iman kita.

Maka tidak perlu ragu, malu apalagi gengsi untuk me-refresh kembali memory indahnya pernikahan.

Tidak ada waktu yang terlalu lama dalam sebuah pernikahan, tidak ada momen yang terlalu singkat untuk dilupakan, tidak ada rasa yang terlalu hambar untuk disemai dalam mahligai cinta rumah tangga.

Mari merangkul kembali pasangan hidup kita, dengan kata-kata yang penuh cinta, dengan rasa yang penuh hormat atas segala kebaikan yang pernah dilakukan, dengan sikap penuh kelemah-lembutan sebagai bentuk kasih sayang.

Ya Allah.. Ya Wadud… Engkau Maha Cinta, rangkul lah cinta kami kepada pasangan hidup kami hanya karena-Mu

Ya Allah.. Ya Latif… Engkau Maha Lembut, Lembutkan lah hati, perilaku dan tutur kami kepada pasangan kami.

*Dari saudara kalian Suryandi Temala

Tenteram kah hidup kita

 

ORANG yang tenang hatinya, tenang pula jiwanya.
Orang yang tenang hatinya, tenang pula sikapnya.
Orang yang tenang hatinya, tenang pikirannya.
Orang yang tenang hati, jiwa, raga dan pikirannya akan tenteram hidupnya.

Maka mari tanya diri sendiri, sudah setenteram apa hidup yang kita jalani? Kalau masih penuh galau, bimbang, cemas dan khawatir berarti hidup yang dijalani belumlah tenteram.

Lalu mungkin ada yang mempertanyakan “bagaimana bisa hidup tenang bila harta tak punya? Bila hidup tak punya wewenang? Bila hidup tanpa pasangan? Bila hidup sendirian?”

Subhanallah….

Seandainya harta itu akan membuat hidup seseorang tenang, maka pasti Qorun, Michael Jackson dan orang-orang kaya lainnya adalah orang paling tenang kehidupannya.

Seandainya wewenang dan jabatan dapat membuat hidup seseorang penuh ketenangan maka pasti Firaun, Julius Caesar, Ariel Sharon, dan pejabat serta pemimpin lainnya adalah orang yang paling tenang hidupnya.

Seandainya orang yang berpasangan itu dijamin pasti tenang hidupnya, maka yakinlah tidak ada pernikahan yang berakhir dengan perceraian akibat pertengkaran.

Sadarilah bahwa harta, tahta, pasangan hidup hanya pelengkap ketenangan. Banyak orang yang tidak memiliki hal di atas tetapi tetap merasakan ketenangan hidup. Karena inti ketenangan itu adalah mengingat Sang Maha Indah. “Ala bizikrillahi tath’mainnul qulub,” (Qs. Ar-Ra’d : 28).

Dan andaikata setelang berzikir hatimu tidak juga tenang, berati ada yang salah dengan imanmu. Karena bagian awal dari ayat di atas adalah “Orang-orang yang beriman yang tenang hatinya dengan mengingat Allah.”

Mari berzikir, agar kita tahu bagaimana kualitas keimanan kita. Seraya tadabbur ayat 28 surat Ar-Ra’d tadi.

Semoga hidup kita semakin tenteram, Aamiin.

Bukan terburuk tapi terbaik untuk mu

Image

Suatu hari ayah saya memulai pagi dengan penuh semangat, bagaimana tidak, beliau digadang-gadang menjadi salah satu kandidat terkuat untuk menjadi supervisor baru di kantornya. Rapat pimpinan berlangsung lebih lama dari biasanya, hingga akhirnya keputusan yang mereka keluarkan adalah ayah saya digagalkan menjadi supervisor baru karena salah satu senior supervisor tidak menyetujui pengangkatan beliau.

Sontak ayah saya begitu terkejut dan terpukul dengan kejadian ini, serasa tidak percaya, namun apa hendak dikata, ini adalah keputusan-Nya melalui tangan-tangan manusia. Hari-hari berlalu sama seperti biasa, kecuali rasa perih itu masih tersisa.

Hingga beberapa minggu kemudian ayah saya sujud syukur, mengucapkan ribuan bahkan jutaan terima kasih kepada Sang Maha Mengetahui. Beberapa minggu setelah pengangkatan supervisor baru, ia pun dipanggil rapat ke Jakarta. Namun ketika pulang menumpang pesawat Garuda Indonesia Airbus A300-B4, pesawat tersebut jatuh di pegunungan daerah Sibolangit Sumatera Utara saat hendak mendarat di Bandara Polonia Medan pada 26 September 1997. Seandainya supervisor waktu itu adalah ayah saya, mungkin beliau yang menjadi salah satu dari korban jiwa.

Sungguh ayah saya tidak pernah mensyukuri kegagalan yang lebih syahdu daripada kegagalannya menjadi supervisor kali itu. Di saat itulah beliau amat menyadari firman-Nya: “Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian, dan bisa jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian, Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS.Al-Baqoroh: 216).

Saudaraku, kita semua pasti pernah gagal dan kecewa, namun berbaik-sangka lah kepada Allah.

Kegagalanmu kali itu adalah hal terbaik yang pernah ada di dalam hidupmu.
Apakah pernah Allah mengecewakan doa dan kebaikan untuk mu?

Percaya lah … Segala yang terbaik sudah ditetapkan-Nya untuk kita, mungkin kita yang kurang menyadarinya.

Ketika Gelisah Menanti Jodoh

Image

Ada sebuah penantian yang bisa bikin hati gelisah tiada tara…

Ya.. Gelisah menanti jodoh..

Hati sering merasa syahdu, seolah disayat sembilu. Serasa ingin menangis berteriak mengeluarkan segala unek-unek hati.

Saudara dan saudariku, tidakkah kita sadari bahwa sembilu hati itu panggilan Ilahi yang memasukkan secercah hidayah agar menerangi relung yang kosong itu.

Rasakanlah nikmat dan indahnya menangis, meminta dan memohon dipertemukan belahan jiwa dalam ikatan pernikahan.

Maka menangis lah… Tunduk lah… Sujud lah… Curahkan kerinduanmu pada Sang Maha Cinta…

Mudah-mudahan Allah menjawab permohonanmu dengan mempertemukan kamu dengan dia yang akan selalu membuatmu mensyukuri nikmat-Nya.

Jangan mencari jodoh dengan cara maksiat, karena bisa jadi kelak ia malah yang paling pertama membuatmu kufur atas nikmat-Nya.

Bila keluarga sakinah mawaddah wa rahmah adalah tujuan, maka cara yang diridhoi Allah lah yang dijalankan.

Semoga konsisten ya…

Yang single dan minat cari jodoh boleh inbox ya.. 

Terlebih-lebih untuk yang pria.. Ndak usah lagi goda-goda anak gadis orang kalau belum siap.. Besar dosanya..

Pemilu Momen Kebangkitan atau Keruntuhan Bangsa Indonesia

Image

Hiruk-pikuk pemilihan umum dalam sistem demokrasi yang dijalankan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia kian menemui klimaksnya. Pemilu 9 April 2014 akan menentukan nasib bangsa Indonesia selama lima tahun ke depan karena orangorang yang akan terpilih memimpin bangsa ini akan menentukan jalur nasib bangsa ini, apakah menuju kemajuan dan kebangkitan atau malah kemunduran dan kehancuran.

Mengutip firman Allah Swt dalam Alquran surat Al-Isra ayat 16 yang artinya :”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Jelas sekali bahwa Allah akan membinasakan suatu kaum karena kedurhakaannya, namun proses pembinasaan itu tidaklah semena-mena. Ada faktor utama yang menyebabkan turunnya kejatuhan suatu negeri yang mayoritasnya beriman kepada Allah, yaitu faktor pemimpinnya. Tidak dapat disangkal bahwa orang-orang yang hidup mewah di suatu negeri adalah pejabat atau penguasa negeri itu bukan?

Saudara sebangsa-ku, meskipun sistem pemerintahan yang dianut negara kita tidak seperti yang kita idam-idamkan, namun alangkah menyedihkannya nasib kita dan keluarga kita apabila ikut merasakan azab yang diturunkan kepada negeri ini, padahal kita dan keluarga kita beriman dan beramal soleh.

Mari lebih bijak memilih orang-orang yang berkompeten, amanah dan beriman kepada Allah.

Baiklah… Kita mungkin sepakat bahwa masalah iman ini hanya Allah yang mengetahui hakikatnya, namun alangkah tidak bijaknya kita memilih orang lain yang tidak seiman dengan iman kita. Saya yakin dan percaya masih ada cukup banyak orang berkompeten dan amanah yang seiman dengan kita, sehingga opsi memilih orang berkompeten yang tidak seiman tidak “urgent” untuk disebarluaskan.

Satu hal yang perlu kita sama-sama sadari bahwa perubahan suatu kaum itu memerlukan usaha yang lebih intens dan kompak daripada perubahan personal. Dan karena itulah Allah Swt berfirman di dalam surat Ar-Ra’du ayat 11 yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Kita telah diultimatum Allah agar bertanggungjawab terhadap perubahan masyarakat kita, sehingga seandainya kelak keburukan terjadi dan azab Allah turun, sungguh Allah telah berbuat adil terhadap makhluknya.

Mari sukseskan PEMILU 9 April 2014 dengan memilih wakil yang amanah, kompeten dan beriman kepada Allah.

Dan kepada para caleg serta partai, ingatlah amanah kalian bukan hanya pada pemilih kalian. Sungguh berat pertanggungjawaban kalian kelak dihadapan Allah apabila yang kalian untungkan kelak hanya dari partai kalian saja.

 

 

 

Miskin Jangan Putus asa, Kaya jangan sombong

Image

Allah Swt berfirman “Dan Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (QS. Ar-Rum 37)

Dalam menafsirkan ayat 37 surat Ar-Rum di atas, Syeikh Wahbah Az-Zuhaily di dalam tafsir Almunir menyebutkan bahwa, kehendak Allah dalam melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang, Allah bebas melakukan hal tersebut sesuai dengan hikmah sifat Adil-Nya, baik bagi orang beriman atau pun bukan orang beriman. Karena dunia ini bagi Allah tidak lebih berharga daripada sayap nyamuk. Sehingga tidak layak bagi seorang mukmin itu menganggap bahwa kefakiran rezeki dunia merupakan sebab untuk berputus asa dan kekayaan menjadi sebab keangkuhan, karena semua itu dari Allah Swt.

Diakui atau tidak, kita paling sering galau dengan kondisi keuangan kita sehari-hari. Dengan segala upaya kita berdoa tak henti-henti nya meminta rezeki yang banyak. Lalu bersedih hati karena merasa seolah doanya tidak terjawab seiring tidak juga bertambah rezekinya. Akan tetapi apabila rezekinya menanjak ia merasa doanya terjawab dan merasa menjadi mulia karena dimuliakan dengan harta kekayaan. Padahal Allah Swt telah menegaskan di dalam surat Al-Fajr ayat 15-16 “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.”

Sedikit dan banyaknya rezeki di dunia tidak pernah dijadikan Tuhan sebagai standar kemuliaan seseorang dalam pandanganNya. Apabila rezeki kita sedang dipersempit olehNya maka itu adalah cara Tuhan meninggikan derajat seseorang, karena biasanya mereka yang sedang sempit rezekinya sering ingat Tuhan dan lebih sering dekat-dekat dengan rumahNya. Sedangkan keluasan dan kelapangan rezeki sering sekali menjadi ujian Tuhan yang sangat berat bagi hambaNya, karena bahkan seorang sahabat seperti Tsa’labah yang ketika masih miskin amat taat pun menjadi begitu sibuk dengan kekayaan hingga lupa bagaimana dahulu keadaannya yang dekat dengan Tuhan.

Maka jangan meminta rezeki yang banyak, karena bisa jadi rezeki yang banyak itu malah menjerumuskan kita menjauh dariNya. Mintalah keberkahan rezeki serta keridhoan terhadap rezeki yang diberikan. Yakini bahwa kesyukuran kita terhadap nikmat yang sudah ada akan menambah keberkahan bahkan kuantitas dan kualitas rezeki tersebut. Dan bentuk syukur yang paling tepat bukan hanya terucap dari lisan tetapi dengan terus memperbaiki kualitas kehidupan dari sisi mental dan kemampuan ataupun skill. Itulah sebaik-baik kesyukuran.

Akhirnya saya mengajak kita semua bersikap zuhud, dan saya ingin mengutip dua istilah zuhud dari dua imam besar umat Islam, “Zuhud di dunia bukan berarti dengan mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud berarti menyadari bahwa apa yang ada di tangan Allah Swt lebih utama dibandingkan dengan apa-apa yang ada di tangan kita” – Hasan Al-Bashri dan “Bukanlah zuhud itu dengan mengosongkan tangan dari harta, sesungguhnya zuhud adalah kosongnya hati dari keterikatan terhadap harta” – Al-Izz bin Abdissalam.

Semoga mencerahkan.

 

Nyamuk dan Kelambu

Image

Alhamdulillah sekali, semenjak pakai kelambu badan saya tidak lagi digigit nyamuk. 
Terima kasih kelambu…
(Ingat sebuah iklan sepertinya…)

Tetapi hal ini tidak berlebihan adanya. Setelah memakai kelambu tidak ada nyamuk yang bisa masuk menggigit tubuh kami.

Namun ternyata nyamuk-nyamuk itu tidak patah semangat, mereka tetap setia terbang dan bahkan bertengger di jaring bagian luar kelambu. Sepertinya mereka tahu sekali bahwa pasti ada suatu waktu dimana kelengahan orang di dalam kelambu yang tidur terlalu ke pinggir, menyentuh kain kelambu itu, dan jadi sasaran empuk untuk dihisap darahnya. 

Nyamuk itu seolah tahu bahwa terkadang tidak perlu masuk ke dalam kelambu, mereka hanya perlu menunggu kelalaian orang yang berada di dalam kelambu saja.

Ya memang terbukti, saya lah salah satu korbannya. Akibat kaki saya nyosor menyentuh kain kelambu, jempol saya bentol besar sekali, entah berapa nyamuk yang antri atau mungkin keroyokan ngisapin darah saya.

Nah ini juga tidak jauh beda dengan kondisi kita sebagai muslim yang merasa aman dalam lindungan Allah dari godaan setan, lalu lupa, lalai bahwa ada setan yang mengintai celah dari diri kita. Lantas kita pun suka ceroboh bermain sekitar hal-hal yang syubhat, dan tiba-tiba tak sadar sudah terlalu jauh melampaui batas syubhat, berenang-renang di kubangan keharaman yang penuh dosa.

Rasulullah sudah mengingatkan di dalam sebuah hadis sahih, bahwa siapa yang suka wara-wiri di sekitar area larangan ditakutkan akan melanggar batas larangan itu. 

Anggaplah kelambu adalah batasan itu dan nyamuk adalah setan yang setia menunggu kesempatan terbuka.

Hukum Syariat adalah batasan dimana seseorang dianjurkan menjauhi batasan tersebut. Maka batas-batas yang sudah digariskan hendaknya dipatuhi dan bila sudah memasuki area syubhat, jauhi..!

Mungkin kita lupa akan setan, tapi setan tak akan melupakan kita. Satu kesempatan pun akan selalu dimanfaatkannya untuk menggoda dan menjebloskan seseorang ke dalam dosa.

Begitu banyak pelajaran dari nyamuk saja. Maka pantas lah Allah menyebutnya di dalam Alquran.

Mari tetap memohon ampun kepadaNya seraya meminta agar selalu dilindungi dari godaan setan.

Hidup untuk pahala

Image

Mungkin beragam jawaban masih bisa kita sebutkan, karena dapat dimaklumi, kita beda kepala, beda backgroud dan beda lingkungan, jadi pasti bisa saja berbeda tujuan hidup kita untuk apa.

Namun izinkan saya membawa kata sepakat bagi kita umat muslim, bahwa hidup kita adalah untuk Allah. Setiap shalat kita sering mengulang “Inna shalati.. wa nusuki… wa mahyaya… wa mamati… lillhi rabbil alamin.” dimana intinya hidup kita dan seluruh kegiatan kita hanya untuk Allah meraih ridhoNya.

“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).

Sehingga selayaknya lah kita hidup memang harus bernilai ibadah. Apapun kegiatannya, mulai dari bangun tidur hingga tidur. (Wah apa mungkin bisa demikian? Lah kalau ibadah melulu ya kapan “gawe” alias kerja nya?) Disinilah yang membedakan Islam dengan ajaran dan agama lain. Islam tidak mengenal istilah sekuler yang memisahkan kehidupan dunia dengan ibadah kepada Tuhan. Islam mengajarkan pemeluknya berjalan pada dua sisi hidup sekaligus. (Hebat bukan Islam ini..??? )

Setiap kegiatan yang dilakukan dengan niat menggapai ridho Allah dan dilakukan sesuai koridor syariat Islam, maka semuanya bernilai ibadah.

Bangun tidur, membaca doa, berwudhu lalu shalat dua rakaat sebelum fajar. Setelah shalat fajar, masuk kamar mandi membaca doa, buang hajat tidak menghadap kiblat, selesai mandi menuju ruang makan lantas bersyukur ada rezeki makanan hari ini lalu membaca doa makan. 

Berangkat kerja atau belajar, keduanya merupakan kegiatan bernilai ibadah.

Segala aktifitas pasti bernilai ibadah bila niatnya mencari ridho Allah, hingga sampai tidur lagi dengan membaca doa tidur seraya membaringkan tubuh sebelah kanan dan menghadap kiblat.

Jadi intinya, apabila melakukan sesuatu, sebagai muslim, wajib kita pertimbangkan bahwa apa yang kita lakukan akan bernilai ibadah.

Saya tidak mengerti jika ada muslim yang berpandangan bahwa hidup ini tidak melulu tentang pahala. Lah masa iya mau melakukan sesuatu tetapi tidak mau pahala?

Pahala yang kita kejar sebenarnya bukan nilainya saja, tetapi karena hanya pahala lah tanda suatu perbuatan itu diridhoi Allah, disukai Allah disenangi Allah.

Lantas untuk apa ada pahala?

Pahala adalah reward dan ganjaran atas apa yang kita lakukan, tidak dapat dinafikan, sebagian kita masih memiliki mental “senang dan semangat melakukan sesuatu bila ada hadiahnya bukan?” Misalnya ikut lomba menulis, ikut lomba menyanyi dan sebagainya. Itu manusiawi sekali… Dan untuk itulah ada yang namanya pahala.

Bagi sebagian lagi, reward itu tidak penting..! Karena toh banyak juga yang ikut lomba menulis, menyanyi, menggambar, berpuisi karena memang senang melakukan hal tersebut. Kalau dari sisi pahala tadi, orang demikian tidak lagi memikirkan pahala, tetapi karena memang senang mengerjakan apa yang disenangi Allah. Istilah kerennya “ngalap ridho Allah” alias mencari ridho Allah saja.

Akhirnya saya mengajak kita semua untuk kembali memperbaiki mindset kita, bahwa hidup kita untuk ibadah. Dan sesuatu yang bernilai ibadah memiliki pahala. Pahala bukan tujuan kita tapi indikasi mendapat ridho dari Allah. Maka lakukanlah apapun yang hendak kita lakukan lalu pastikan itu mendapat pahala.

Wallahu a’lam

Apakah Rasulullah Saw bisa salah…?

Image
Rasulullah saw merupakan nabi yang membawa risalah Tuhan untuk membimbing umat dan mengajak mereka lebih dekat kepadaNya. Selain mengajak umat Nabi juga merupakan sumber hukum, dimana segala penjelasan tentang aturan kehidupan yang diridhoi Tuhan disandarkan pada arahan beliau.

Di sisi lain, status beliau sebagai Nabi tentu sangat rentan tuduhan yang mendustai kenabian dari seluruh aspek kehidupan. Sehingga satu kesalahan dapat menjadi bumerang yang akan menodai status kenabian itu sendiri. Maka secara logika dan syara’ nya Nabi tidak boleh salah sama sekali.

Hal ini berdasarkan firman Allah di dalam surat An-Najm ayat 3-5 ” Dan ia (Muhammad) tidak mengatakan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya * Melainkan merupakan wahyu yang diwahyukan * Yang mengajarinya adalah Yang Maha Kuat”

Jadi jelaas sekali bahwa Nabi tidak pernah salah.

Akan tetapi hal tersebut bila ditinjau dari sisi manusia melihat nabinya, sedangkan bila dari sisi Tuhan melihat hambaNya, Nabi Muhammad juga bisa salah. Ayat tersebut diatas pula yang menegaskan demikian, bahwa kemakshuman Nabi adalah semata-mata karena selalu dibimbing Sang Maha Kuasa.

Lalu kemudian ada yang bertanya, di dalam beberapa hadist sahih terdapat kejadian dimana Nabi bisa salah rakaat, salah strategi dan salah teknik bercocok tanam.

Kita jawab, bahwa kesalahan beliau tersebut disengaja Allah agar menjadi hadis dan petunjuk bagi umatnya. 

Subhanallah sekali ya.. Keterangan dan jawaban ini diintisarikan dari kitab Haza Waalidi oleh Syeikh Said Ramadhan Albuty perihal jawaban Syeikh Mulla (ayah beliau) atas perdebatan diatas.

-Mengenang wafatnya syahidul mimbar Syeikh Said Ramadhan Albuty